Malam di kota orang, bukan kota, lebih tepatnya kabupaten. Tiba-tiba kepikiran, kenapa ya masih gini-gini aja? Ga cuma malam ini, setiap malam kepikiran (banyak banget komanya).


Orang Lain Berkata Bisa

Melihat diri sendiri yang sepertinya ga mungkin buat jalanin semuanya, tapi kenapa orang-orang malah percaya kalau kita itu bisa ya? Padahal kan kita yang jalanin. Capek udah pasti, ga perlu ditanyain lagi. Berasa hidup cuma muter di situ aja kayak ga mau keluar dari jalan yang padahal ga ada jalurnya.


Saat orang lain berkata seperti itu, apakah itu benar-benar nyata yang dia ucapkan atau sekedar kalimat penenang aja buat kita. Nyatanya kita bisa walaupun perlahan. Mereka percaya tapi kita yang ga percaya.


Memulai Kehidupan Baru

Mencoba berdamai dengan keadaan, membuka lembaran baru tapi masih di buku yang sama. Sesekali melihat catatan sebelumnya untuk diperbaiki di lembaran yang baru dibuka ini. Merasa semua berjalan mulus, namun ada aja yang buat kita terpeleset dan akhirnya terjatuh di lubang yang (ga) sama.


Udah mau keluar ni dari yang katanya zona nyaman, padahal nemu nyamannya aja belum tapi udah mau keluar aja (mending keluar ngopi).


Ada yang mendukung perjalanan kita untuk menjadi lebih baik kedepannya. Senang rasanya walaupun kita sendiri yang menjalaninya. Kapan selesainya ya? (When ya?)


Orang Jahat Ga Selamanya (Baik)

Bener juga. Salah tulis, maksudnya orang yang kita anggap jahat selama ini belum tentu seterusnya akan menjadi jahat. Ketakutan yang menghantui kita saat bertemu dengan mereka, ternyata hanya trauma masa lalu aja. Mereka udah baik, atau kitanya aja yang dulu terlalu berlebihan menilai seseorang (padahal mereka juga menilai kita).


Sekarang mereka bersama kita, bahkan mendukung kita dan pasang badan paling depan kalau ada masalah. Semua orang bisa berubah, kitanya aja yang kaget karena merasa paling baik (itu sendiri udah salah sebenarnya).


: "lagi demam apa gimana nulisnya bisa campur aduk gini?"


: "hehe, ga tau ya kepikiran aja semuanya langsung jadiin satu."


Kapan pulangnya ya?


Harusnya libur lebaran udah selesai, waktunya mulai aktivitas seperti biasa lagi. Ada yang kerja, sekolah, bahkan lanjut tidur. Tapi kenapa masih ada aja yang mau muncak?

Foto dulu sebelum muncak

Pendakian kali ini dilakukan oleh 6 orang. Loy, Dio, Nang, Rio, Dwi, dan tentunya aku. Mulai dari basecamp, udah termasuk sore kami mulai sekitaran jam 4. Mendaki dengan perlahan dan yang pasti banyak istirahat di jalur. Beneran capek ya karna sebelumnya memang ga ada pemanasan wkwk.


Mulai mengambil napas wkwk


Bertemu banyak pendaki di jalur, memang rame banget Telogah ini ga ada sepinya. Perlahan namun pasti kami sampai juga di Tanjakan Kenangan.


Tanjakan Kenangan

Lanjut perjalanan melewati jalur yang benar-benar menanjak, nanjaknya tu nanjak banget wkwk. Dikarenakan langkah kami melambat, kami memutuskan untuk berpisah dengan alasan ada yang mendirikan tenda di atas dan ada yang mendampingi di belakang, jadi nanti yang lain tinggal istirahat.


Siap melewati tanjakan yang sebenarnya 

Rombongan dipisah

Loy, Dio, dan Nang pergi duluan meninggalkan kami. Dengan posisi Loy yang mendirikan tenda dan dibantu dengan Dio dan Nang. Sementara aku dan Rio mendampingi Dwi di belakang dengan menyesuaikan ritme perjalanan. Sepanjang perjalanan baru sadar setelah aku melihat frame tenda yang berada di carrier Rio. Tenda memang sama Loy, tapi frame sama Rio wkwk.


Baca juga: Persiapan - Bukit Telogah #1


Aku, Rio, dan Dwi sampai puncak udah hampir gelap, dijemput Dio yang khawatir karena kami tidak membawa headlamp. Sampailah kami di puncak dan baru saja mendirikan tenda wkwk. Ga apa setidaknya kami sudah mengamankan tempat karena memang rame banget.


Sembari menunggu tenda berdiri, aku dan yang lain menyiapkan air panas untuk membuat kopi, sekalian masak untuk makan malam kami nanti. Sehabis makan kami berbincang lumayan lama sampai akhirnya kami putuskan untuk meraih mimpi yaitu tidur.


Main masak-masakan 

Sesuatu yang ga beres mulai terasa, yap bener hujan mulai turun dan tenda kami merembes dan mengakibatkan air masuk ke dalam. Kesalahan kami juga tidak membawa flysheet. Tapi untuk tenda Dwi tidak ada masalah, iya Dwi kami dirikan tenda sendiri terpisah dari kami.


Jujur, sebenarnya susah tidur sampai menjelang subuh, tapi ada lah mungkin 1 jam untuk tidur. Tapi mata ga bisa bohong kalau kami masih mengantuk.


Bangun tidur, kami bersiap untuk foto dengan mata yang masih lemah wkwk.


Keren banget yaa

Ngantuk berat

Banyak pelajaran dan yang pasti teman baru selama pendakian, baik di jalur maupun di puncak. Semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi di kesempatan kedua. Terimakasih semuanya yang telah berpartisipasi dalam pendakian kali ini. Untuk kami yang beranggotakan 6 orang, merasa senang bisa sampai ke puncak Telogah, walaupun pasti ada yang bilang kami "ah pendaki fomo", tapi kenyataannya memang iya wkwk.


Gaya kecapekan

Izin

500 MDPL

Tak lama setelah itu, karena hujan masih rintik, kami menunggu untuk turun. Dengan beban yang sedikit agak berkurang dan yang pasti ini turunan, jadinya agak lebih cepat dibanding waktu naik kemarin.


Turun bersama rombongan yang lain

Licin banget

Turun dari bukit, kami sempatkan foto lagi di Tanjakan Kenangan.






Lanjut perjalanan sampai ke basecamp kami memesan es karena udah pengen banget wkwk. Ahhh segerr banget.


Ga cuma tenggorokan yang pengen seger, badan juga pengen seger, alhasil kami singgah dulu ke riam yang letaknya ga jauh dari basecamp. Cukup jalan kaki aja dengan membawa pakaian ganti karena kami akan mandi di riam.


Yang penting gaya dulu

Ada juga yang ngecamp

Terimakasih Telogah sudah memberikan banyak pengalaman dan teman di sini. Semoga di kesempatan selanjutnya kita bisa bertemu lagi di sini.



Setelah muncak di Sepancong, di kepala langsung kepikiran mau mendaki ke Bawang Peak. Saat itu masih ditutup jadi kami terpaksa mengurungkan niat, walaupun masih ada opsi Bawang Raya dan Bawang Siri (buset udah ngomongin yang tinggi aja ya).

Kami putuskan untuk istirahat dulu sembari memulihkan dana lagi wkwk. Kami pulang juga berdekatan dengan bulan Ramadhan, jadinya mau fokus dulu buat berpuasa.


18 Maret, kami ke Pontianak Convention Center karena ada yang mau nyari jaket, sekalian ngopi sampai mau sahur. Bahas bukit mana lagi yang mau didaki. Sebelumnya ada pilihan ke Bukit Jamur tapi setelah bertanya-tanya kepada teman, sebut saja namanya Aldi, kami putuskan untuk ke Bukit Telogah.


25 Maret, pembahasan persiapan ke Bukit Telogah. Kami ngopi di Suo Kopitiam. Lagi-lagi tempatnya bagus dengan pelayanan yang bagus juga. Banyak pilihan menu, ada yang paketan juga.


Ngopi sama kamu kapan?

Mulai dari iuran sampai logistik kita tentukan di Suo Kopitiam. Untuk alat udah kami booking jauh-jauh hari, ditakutkan kehabisan karena setelah lebaran pasti banyak yang mau ke puncak. Apalagi kalau ngomongin Telogah, ga pernah sepi si kayaknya di sana. Mudah mudahan ga rame banget yaa wkwk.


Oh iya, untuk penyewaan alat kami percayakan kepada Basecamp Adventure. Sebelumnya juga nyewa di sini dan kebetulan juga arahnya sama ke tujuan jadi ga perlu yang muter-muter lagi. Untuk alat ga semua kami sewa, yang penting-penting aja dan yang pasti barang yang belum kami punya kayak tenda gitu.


Semoga semuanya lancar tanpa ada kendala sedikitpun. Tunggu tulisan selanjutnya...


Masih suasana lebaran, yang harusnya bersilaturahmi ke orang-orang malah kami gunakan buat silaturahmi ke bukit. Lebaran tempat keluarga belum sepenuhnya habis tapi udah kebelet pengen ninggalin rumah aja wkwk.


Pendakian kali ini masih bersama Loy teman mendaki yang kebetulan juga teman semasa sekolah dulu. Nekat berdua aja dari Rasau Jaya menuju Bukit Wangkang yang berada di Ambawang, Kecamatan Kubu.


Penyebrangan Bintang Mas

Perjalanan melewati penyebrangan di Bintang Mas dengan membayar Rp5.000 per motornya. Dilanjutkan perjalanan dengan pemandangan sawit di sepanjang jalan. Lumayan berdebu sampai celana yang hitam berubah jadi warna cokelat.


Sampai di lokasi dengan aman, dilanjutkan membayar tiket masuk sekaligus parkir dengan harga Rp15.000.


Pendakian kami mulai hanya berdua saja. Belum jauh melangkah, di jalur kami berpapasan dengan dua pendaki perempuan yang ingin ke puncak juga, sebut saja namanya Nia dan Ita. Akhirnya kami berempat memutuskan untuk menuju puncak bersama.


Sepanjang perjalanan relatif landai dan yang pasti banyak pohon tumbang dan duri rotan yang bisa melukai tangan apabila tidak berhati-hati. Tidak selamanya landai, kadang kami juga bertemu dengan tanjakan yang bisa dibilang menguras tenaga. Walaupun bukit ini hanya memiliki ketinggian 343 MDPL, mendaki bukit ini terasa sangat lama dan ga sampai-sampai. Menurutku sendiri karena jalurnya yang landai membuat jalur ini menjadi jauh dari puncak. Ditambah jalur ini ada turunan juga yang membuat kita naik-turun berulang kali.


Di sumber mata air, kami gunakan untuk beristirahat sekalian makan siang. Sambil mengistirahatkan badan dan mengambil napas. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan. Banyak istirahat yang kami ambil karena memang ga ada yang mau dikejar.


Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan pendaki yang turun dari atas. Kami berpikiran semoga di atas ga ramai karena banyak yang sudah turun.


Tengah hari kami berempat sampai puncak, terlihat ada plang yang bertuliskan PUNCAK BUKIT WANGKANG 343 MDPL. Di puncak banyak bebatuan besar namun masih ada tanah juga yang cocok untuk mendirikan tenda.


343 MDPL



Bersama Loy

Siang sudah mau berganti dengan sore, kami putuskan untuk turun. Ternyata kami punya tujuan yang sama ke Embung Parong. Jadi kami masih berempat menuju ke tempat selanjutnya. Tempatnya ramai dan agak berisik juga, tapi tenaga kami sudah habis jadinya ga excited lagi wkwk.







Perjalanan ga melulu soal tujuan akhirnya, namun kita juga harus menikmati proses selama perjalanan. Bertemu teman baru, lingkungan baru, serta pengalaman yang baru juga. Kedepannya semoga perjalanan ini bisa menjadi kisah dan selalu diingat sampai tua nanti. Alasanku menulis juga seperti itu, supaya kelak sudah tua dan ingin mengingat kisah yang dulu pernah dilalui, tinggal melihat tulisan ini kembali. Karena tulisan ini abadi (mudah-mudahan).

Terimakasih semuanya, sampai bertemu di perjalanan selanjutnya.