Bukit sempit

Akhirnya, bisa menulis lagi di blog yang ga ada pembacanya ini. Tahun ini sepertinya banyak menghabiskan waktu di pendakian dan jalan-jalan. Kalau dibilang menyenangkan, jawabannya harusnya iya. Tapi kita ga bisa mastiin semua orang bahagia dalam perjalanan, mungkin ini perjalanan terakhir.

Sinyal Kecil di Sepanjang Jalur

Memulai dengan doa dengan harapan selamat sampai tujuan. Berjalan menyusuri jalur yang sebagian besar tertutup oleh dedaunan kering. Sesekali istirahat walau puncak tidak setinggi bukit yang lainnya. Entahlah, walaupun begitu pendakian kali ini terasa berat (bukan berat yang sebenarnya).

Bukit ini terletak tidak berjauhan dengan bukit-bukit sebelumnya, yang sudah pernah didatangi. Iya, seperti Wangkang dan Bendera.

Masih menikmati perjalanan yang ditemani dengan asap dan sedikit cahaya. Ga ada yang beda sebenarnya dengan pendakian sebelumnya, hanya saja ada yang membuat perjalanan serasa membeku sejenak, saat salah satu dari kami berkata bahwa ini pendakian terakhir.

Awal dan Akhir

Ah, kalimat ini lagi. Sedih sebenarnya kalau mendengar "pendakian terakhir" siapapun orangnya. Padahal perjalanan ini baru dimulai namun sudah berakhir sebelum sampai tujuan. Tapi pada ujungnya, apapun itu, kita pasti dihadapkan dengan pertemuan dan perpisahan. Entahlah, mungkin memang ada waktunya lagi nanti.

Kembali ke Jalur

Tidak tergesa kami menuju puncak, yang terpenting kami sampai dengan selamat. Ada yang ngantuk, lelah, kepanasan, digigit nyamuk, overthinking, haus, dan sebagainya.

Sepanjang jalur, hanya rombongan kami yang berangkat. Sebelum akhirnya ada rombongan lain yang datang mendahului kami, entahlah bisa dikatakan rombongan atau tidak. Pada akhirnya kami berada di tempat yang sama.

Penutup 

Ga banyak yang mau ditulis (diketik) dalam perjalanan kali ini. Hey, masih ada perjalanan selanjutnya (mungkin). Turun dengan makna yang baru, bagaimana sebuah akhir pendakian justru menjadi kenangan paling berharga.



Terima kasih Bukit Sempit dan semuanya. Semoga dipertemukan kembali di kesempatan yang akan datang.

Kalau harus menunggu lebaran untuk saling memaafkan, kayaknya terlalu lama buat kita untuk menjadi orang baik. Setiap hari, pastinya dihadapkan dengan persoalan yang sebagian bisa kita atasi dan sebagian lainnya di luar kendali.

Baca juga: Bila

Capek juga ya rasanya, yang seharusnya bukan masalah kita, malah kita sendiri juga terkena getahnya. Atau mungkin juga ada seseorang yang benar-benar kita ga suka, hadir dalam dunia ini. Dibilang salah juga ga salah, dibilang bener juga ga bener.

Harapan orang, pasti yang salah harus minta maaf kepada yang ia buat salah. Tapi terkadang mereka ga sadar tu sama apa yang mereka perbuat. Di pikirannya selalu benar. Salah menurut mereka itu yang di dalam penjara.

Seharian mencoba tetap waras dan bersikap seperti biasanya. Tapi bohong juga kalau bersikap seperti biasanya. Memang ga bisa ditutupin. Senyum palsu, candaan yang dipaksakan, bahkan perlakuan yang ga seharusnya kita lakukan.

Dari bangun tidur, udah tinggal milih aja masalah mana yang mau dicoba duluan. Mulai dari level baby sampai level WNI.

Seharian udah kenyang dengan masalah, udah kenyang mau nambah lagi. Ga lama kayaknya muntah si. Puncaknya siang hari, pas lagi terik-teriknya. Mulai sore, udah agak tenang. Matahari Senja seakan memberi kita energi baru walau sebentar. Sampai akhirnya dia pergi dan kembali esok hari.

Malam menjadi teman banyak manusia sekarang. Katanya, hanya malam yang bisa mengerti mereka. Kehidupan di malam hari benar-benar hidup walaupun hanya di kamar seorang diri. Dibandingkan di luar sana yang kelihatannya ramai tapi kosong.

Oh iya, sampai lupa. Dari semua kekesalan kita di hari ini, malam memang menjadi obat yang mujarab bagi mereka yang punya banyak masalah. Atau mungkin malah akan menjadi lebih parah lagi? Entahlah aku juga bukan kalian, begitu juga sebaliknya.

Sebelum tidur, sempatkan waktu untuk memaafkan kejadian di hari ini, baik pekerjaan, keluarga, orang lain, bahkan untuk diri sendiri. Memang agak sulit rupanya untuk memaafkan sesuatu yang seharusnya orain lain yang meminta maaf. Tapi sudahlah, tak mengapa. Tidur dalam keadaan memaafkan jauh lebih nyenyak pastinya. Boleh aja kita merasa kesal, tapi cukup di hari itu saja, ga perlu berlarut-larut sampai besok. Batasnya cuma sampai tidur aja, setelahnya jalani hari seperti biasanya.

Nasihat buat orang lain✖
Nasihat buat diri sendiri✔

Yang aku tulis belum tentu juga aku jalankan, haha. Kalau tulisan ini ga cocok di kalian, tinggalkan saja. Aku menulis juga bukan untuk kalian merasa cocok, jadi jangan dipaksa juga ya.

Kadang ada pikiran yang tiba tiba-tiba lewat di kepala, ada juga kejadian yang dialami sebelumnya. Daripada lupa, mending ditulis aja di sini. Sewaktu-waktu ingin membaca lagi tinggal buka blog ini lagi. Harusnya bisa bertahan sampai tua nanti ya.

Terimakasih pembaca dari 2016-2026 ini. Ga tau apa yang bisa diambil dari tulisan di blog ini😂.

Sekali lagi terimakasih.

Bukit Bendera

2016, (seingat ku) menjadi tahun terakhir mendaki Bukit Bendera. Tapi 10 tahun kemudian, dipertemukan lagi dengan tempat ini. Aku sendiri, kenal bukit pertama ya Bukit Bendera, waktu kemah pramuka dulu. Tapi saat itu puncaknya masih di batu besarnya, belum sampai yang bener-bener atas.

Ga cuma sekali aja ke sini, karena memang dulu taunya ya cuma bukit ini aja. Mau liat fotonya waktu dulu?

Bukit Bendera
Bukit Bendera 2016
Ini waktu masih sekolah ya, sama temen kelas juga ke sini. Belum kenal tu yang namanya peralatan pendakian. Ga ada yang namanya pakai sepatu gunung, yang ada ya pakai sandal kalau ga ya sepatu sekolah wkwk, pun tetep sampai juga.

26 Juli 2026

Di tahun ini, ternyata masih diberi kesempatan untuk mendaki Bukit Bendera. Tapi dengan teman-teman yang berbeda. Kami beranggotakan 7 orang, 4 perempuan dan 3 laki-laki. Seperti biasa, harus melewati penyebrangan dan masuk jalan sawit yang berdebu (saran aja kalau mau aman ambil paling depan haha).

Jalur Pendakian Bukit Bendera
Jalur Pendakian
Pendakian kami mulai. Harusnya kalau ke sini ga tersesat karena banyak petunjuk jalan, kalau dulu belum ada yang kayak gini (si paling duluu, izinn🙏🏻 haha). Perjalanan kali ini santai aja karena ga ada juga yang mau dikejar (kadang kita ngejar dia tapi malah dia ngejar yang lain wkwk).

Spot Foto Bukit Bendera
Belum Siap Haha
Sepanjang jalur, sekiranya ada tempat bagus, kami gunakan buat berfoto sambil istirahat. Biarkan mereka duluan karena kami sedang menikmati perjalanan. Kalau dari medan sendiri memang kebanyakan nanjak dan masih banyak pohon, jadinya ga panas waktu di jalur.

Tanjakan Bukit Bendera
Tanjakan Pangestu
Puncak 5 menit lagi (kata mereka). Tau sendiri kan artinya apa? Kalimat keramat kalau ini wkwk. Kalau sambil menikmati perjalanan juga ga kerasa sebenarnya.

Ehh... tau-tau puncak.

Bukan puncak juga sebenarnya, ini tu tempat buat istirahat, nahh dulunya aku cuma sampe sini aja.

Intinya Aja Udah Wkwk

Sebenarnya inti dari tulisan ini, kami ada acara masak-memasak di puncak wkwk. Selain itu, kami membuat es buah, yang beneran ada es batunya. Kami lumayan lama beristirahat di sini sambil memasak dan menikmati sekitar.
Kegiatan Memasak Bukit Bendera

Makanan di Bukit Bendera

Menikmati makanan sampai lupa mau ke puncak. Kami menyantap makanan sambil menikmati ketenangan di bukit ini.
Hutan Bukit Bendera
Berhenti Sejenak


Iklan Foto Dulu

View Bukit Bendera
Hampir Puncak

Puncak Bukit Bendera

Setelah acara makan-makan selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang sebenarnya (es buah ga ada fotonya, lupa). Sebelumnya, kami packing dulu, memasukkan segala peralatan ke dalam tas untuk dibawa ikut ke atas juga, jadinya nanti tinggal turun aja.

Masih santai karena ga ada yang mau dikejar juga di atas. Sambil istirahat dan sekiranya nemu tempat foto ya berhenti dulu buat foto.
Jalur Puncak Bukit Bendera
Sebelum Puncak

Ga lama berjalan, kami sampai juga di puncak yang sebenarnya. Walaupun butuh effort juga buat naik ke atas, karena mau pakai tangga dulu baru bisa ke puncak. Di atas ga terlalu luas, ga seluas yang di bawah tadi. Tau sendiri kan, kalau udah di puncak kegiatannya ngapain? Ya foto pastinya.





Walaupun dengan teman yang baru, pendakian kali ini menyenangkan. Bukan masalah bukit atau gunung mana yang kita daki, melainkan teman mana yang harus kita pilih saat pendakian. Semoga bisa dipertemukan lagi di kesempatan berikutnya. Entah itu dengan teman baru ataupun tempat yang baru.

Terimakasih Bukit Bendera, untuk kesekian kalinya.
Bukit Kamawangan

Rencana mendaki sudah sedari lama, namun belum tau arah mau kemana bukit yang akan didaki (janggal bener ya, daki). Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaki Bukit Kamawangan, ada opsi lain yaitu Bukit Jamur. Ah, tapi pilihan memang berat di Bukit Kamawangan ini, alasannya karena bukit ini belum seramai bukit yang lain (mungkin) hehe.

Kalau sesuai arahan di Google Maps, kami diarahkan melewati jalan Sungai Pinyuh. Di simpang itu kami lanjut melewati Anjungan dan seterusnya. Haha, ternyata jauh juga lewat sini. Tapi pas pulang nanti ternyata ada jalan yang lebih dekat menuju Pontianak, huhu.
Packing

Pendakian kali ini ga terlalu banyak bawa peralatan yang ga penting makanya masih banyak ruang, atau mungkin packing nya yang udah oke? Haha.

Tapi iya, kami lebih fokus ke logistik buat menikmati makanan di atas nanti wkwk. Jadi beratnya memang di konsumsi, tujuan ke sana juga buat nyari senang dan nyari kenyang haha.

Pendakian Dimulai

Kami memulai pendakian saat matahari mulai terbenam. Ga ada yang mau dikejar, jadinya santai aja jalannya. Selama perjalanan, kami diantar oleh pemandu sampai batas hampir menuju pos 1. Setelahnya kami lakukan pendakian hanya ber 4 saja.
Menikmati Sunset
Matahari sudah mau beristirahat, sempatkan mengambil foto karena momen ini benar-benar bagus dan sayang untuk dilewatkan.

Sepanjang perjalanan, kami menikmatinya. Malam telah datang dan kami harus tetap berjalan dengan sesekali beristirahat. Headlamp kami nyalakan sebagai penerang di jalur (karena selama ini kami tersesat di jalan-Nya).

Area Camp

Sesampainya kami di puncak, kami berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, mengemas barang, dan memasak. Dengan begini kami bisa istirahat bersamaan lalu menyantap masakan yang sudah dimasak tadi.


Malam kami habiskan dengan makan snack dan bercerita, mulai dari horror sampai masa depan (masa depan ga ada yang tau). Satu per satu kami mulai tidur untuk menyambut esok hari.

Pemeran Utama

Sebenarnya kami ke puncak ini pengen nyoba buat es buah (tanpa es) di puncak. Mungkin lebih tepatnya sop buah ya. Udah dari lama pengen buat ini dan percobaan pertama langsung berhasil ya haha.


Akhirnya

Pendakian kali ini menyenangkan karena tempatnya yang bisa dibilang masih asri dan pemandangannya benar-benar bagus. Suasana di sini juga nyaman walaupun pas malam agak susah tidur karena ada yang membawa petasan. Ga tau juga rombongan mana yang iseng sampai bawa petasan, yang pasti mereka orang resek dan caper ya.

Kegiatan selanjutnya kami lakukan untuk mengemas tenda dan packing untuk pulang. Ga lupa yang pasti foto-foto ya haha.