Hari itu tepat di malam tahun baru, aku bertemu dia. Iya dia, dia yang mengisi hari ku dengan sangat manis dan baik. Siapa sangka pertemuan singkat itu menjadi awal dari semuanya.


Dari awal pertemuan, dia memang sudah menjadi laki laki yang baik. Malam itu aku sendiri sungguh tidak menyangka ada seseorang yang membantu ku dalam kesulitan. Namun setelah dia membantu ku, aku lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada nya. Tapi sungguh semesta memang berpihak kepadaku karena selang dua hari kita pertama kali bertemu itu, ia langsung menghubungi ku terlebih dahulu. Aku terkejut lalu tidak menyangka juga, dan aku mengucapkan terimakasih kepada nya karena telah membantuku hari itu.


Tak terasa obrolan itu berlanjut hingga terus menerus, dan dia mengajakku untuk bertemu untuk sekedar melanjutkan beberapa obrolan yang sempat tertunda itu lalu tentu saja aku mengiyakan ajakan itu. Sederhana tapi dia selalu membuatku terkesan, itulah dia.


Di pertemuan sederhana itu, aku tertegun dengan cara dia mengajakku bicara, cara dia menatapku, cara dia tersenyum kepada ku, dan beberapa keisengan lainnya yang membuat aku merasa nyaman dan aman berada di dekatnya. Bahkan waktu menunggu hujan pun sama sekali tidak berasa lama saat duduk dan berbicara dengan nya. Sungguh aku berharap hujan turun terus menerus tanpa henti. 


Banyak hal yang kita berdua bagi di pertemuan kedua itu, terutama menceritakan kisah cinta dari masing masing kita dengan sedikit candaan. Selain itu, banyak juga hal yang baru aku ketahui dari nya, dan ini cukup aku dan tuhan yang mengetahui bagaimana diri nya. Dan masih banyak lagi yang kita bicarakan hingga kita beberapa kali membuat rencana indah yang akan kita realisasikan di masa depan.


Setelah pertemuan kedua itu, kami makin sering bertukar kabar melalui fitur video call, aku senang melihatnya dan juga senang mendengarkan ia bercerita. Setiap hari kita selalu bertukar kabar dan juga saling mengisi satu sama lain. 


Namun saat aku mulai tenggelam dan jatuh, ada hal yang membuatku sedih, yaitu saat dia memberi tahu bahwa ia takkan lama di kota ini, dia akan kembali ke kota asalnya. Runtuh rasanya mendengar kabar baik menurutnya dan kabar tidak baik menurutku.


Di pertemuan selanjutnya entah pertemuan yang ke berapa, dikarenakan kita selalu menyempatkan pertemuan itu, kita membahas dia yang sebentar lagi tak menetap di kota ini. Aku senang mendengar dia cerita akan kembali ke kota asal nya tapi jauh di lubuk hatiku sungguh sangat sedih, karena selama ini hariku senang dan manis yang selalu di isi oleh nya. Aku selalu berharap ia tak jadi kembali ke kota nya dikarenakan aku sudah nyaman berada di sampingnya. Namun semesta kali ini tidak berpihak kepadaku, dia dinyatakan tidak lolos di suatu instansi pemerintah, hal ini yang membuat dia harus kembali ke kota asalnya.


Jangan tanya bagaimana keadaanku saat itu, sungguh aku hanya bisa berharap dan mencari cara agar dia tak kembali ke kota asalnya, tapi itu semua sia sia karena dia akan tetap kembali ke kota asalnya yaitu Jogjakarta. Aku baru saja merasakan hal yang membuat ku senang dan tenang, tapi ternyata itu semua tidak lama.


Di pertemuan terakhir, kita menghabiskan waktu sebaik mungkin seakan tidak ada hari esok lagi untuk kita berdua. Banyak yang kita ceritakan dan kita bahas, padahal setiap hari kita berdua selalu bertukar cerita dan keluh kesah. Tapi rasanya itu semua tidak cukup.


Kita mengelilingi kota ini di sore hari, aku sungguh menikmati nya dan berharap waktu berhenti sejenak agar aku bisa lebih lama dengan nya. Tapi lagi dan lagi waktu menarik nya paksa dariku. Kita berdua berakhir duduk di depan rumahku sambil membicarakan hal yang akan terjadi di masa depan, tentunya kita berdua berangan angan ada kita di depan sana.


Dan di pertemuan terakhir itu, aku menatapnya lumayan lama dan juga memperhatikan cara dia menjelaskan sesuatu kepadaku, sungguh dia tau segalanya. Di pertemuan itu aku merasa tak rela bahwa itu menjadi pertemuan terakhir kita dengan aku yang masih menggenggam sebuah coklat yang diberi nya sore tadi. Coklat dan susu kotak menjadi saksi dibawah langit jingga dengan kita berdua yang sedang bertukar cerita dan sesekali terdiam mengingat bahwa aku dan dia sudah tidak bisa bersama seperti sekarang. Dia menguatkan ku dan berkata bahwa aku bisa berkunjung ke kota nya dan kita akan bertemu lagi. Namun hal itu sama sekali tidak membuatku lega. Hatiku bergemuruh, rasa tak rela itu makin besar, tapi aku tak bisa apa apa selain menerima. 


Di hari kepulangan nya aku tidak ikut serta mengantarkan nya ke bandara karena satu dan lain hal, itu sedikit membuatku menyesal namun apa boleh buat? Aku menangis di kamar mendengar kepulangan nya itu walaupun kita masih saling bertukar kabar.


Dia terus mengabari ku sesampai nya dia di kota asal nya, aku senang karena kita tetap sama dan tidak berubah, yang berubah hanya lah jaraknya.


Tetapi itu semua tidak bertahan lama, dengan sadar kita berdua tidak lagi saling memberi kabar, tidak lagi memberi sebuah cerita, semuanya hilang begitu saja. Bagaimana dengan aku? Waktu itu aku mencoba untuk tak terpengaruh dan mencoba menjalani hari tanpa kabarnya lagi.


Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, semua aku lalui tanpa tau keberadaan dan kabarnya, ada rindu yang tertahan di diri ku namun aku tak berani untuk menghubungi nya duluan karena aku tau itu akan mengganggu nya. Aku hanya bisa berbagi cerita bahwa aku sungguh sangat merindukan kehadiran nya.


Aku banyak mengabadikan momen saat bersamanya dan hanya itu yang bisa ku putar saat aku merindukannya, tak jarang aku mengingatnya dan aku selalu berpikir bahwa ada manusia yang se mengusahakan dan se baik itu, bahkan hingga saat ini dua hal itu selalu ada di benakku.


Sampai kemarin saat malam tahun baru tiba, dia menghubungi ku lagi namun dengan rasa yang berbeda. Rasa nya tak lagi sama untuknya tapi untukku semua nya masih sama. Aku senang dia mencari ku setelah sekian lama. Aku berkata aku merindukannya, itu cukup lega dengan penderitaan ku selama ini menahan agar tak menghubunginya duluan.


Tahun baru kali ini kita tak banyak bertukar cerita, kita hanya seperlu nya, bukan kita tapi dia yang seperlunya. Aku tetap senang dan menggebu gebu. Entah kenapa dia masih segalanya. Tapi tak lama dari itu kita tak bertukar lagi entah karena dia yang tak mau atau karena keadaan yang membuat kita tak bertukar kabar lagi. Aku sedih, aku masih terus mengharapkannya tapi semesta sama sekali tidak merestui ku dengannya.


Hingga akhirnya perasaan yang aku tanam ini berakhir aku kubur sendirian, rasanya sungguh tak adil jika hanya aku yang senang dengan kita berdua. Aku selalu berpikir apa yang salah denganku? Tapi rasanya bukan diri ku yang salah, karena pada dasarnya hati seseorang tak bisa kita paksa.


Selama ini dia selalu ada di dalam doa ku, namun sekarang dia sudah lumayan jauh dari doa ku, tapi aku selalu berharap dia selalu di kelilingi orang baik dan tulus kepadanya, karena sungguh aku pernah sebegitu cinta dan sayang kepada nya. 


Senyum nya, perlakuan baik dan manisnya, cara dia menatap ku, cara dia menasihati ku, semuanya akan selalu terkenang dan tersimpan di dalam ingatan ku. Dia selalu mengusahakan pada waktu itu.


Aku yang selalu cinta dan sayang ini rasanya sudah cukup, bukan karena aku mudah melupakan tapi rasanya memang sudah cukup dan mulai sadar bahwa kita memang tidak bisa bersama, mungkin benar kata orang jika orang yang tepat di waktu yang salah, sebetulnya aku benci pernyataan itu tapi ternyata memang begitu kenyataan nya, aku sudah mulai menerima.


Untuk kamu, terimakasih untuk kenangan manis dan baik nya ya mas, aku seneng bisa kenal kamu, walaupun kehidupan di ulang sekian ratus kali pun, aku selalu milih buat ketemu kamu walaupun aku tau kita gabisa sama sama. Banyak hal yang bisa di ambil baik dan buruk nya, aku gaakan pernah lupa ada orang sebaik dan se mengusahakan itu, gaakan pernah.


Biarlah cerita kita jadi kenangan manis yang buat dikenang, aku udah gak berharap apapun lagi mas, tapi harapan singkat ku semoga doa ku selama ini di dengar tuhan untuk mempermudah urusan dan tujuan mu untuk siapapun itu, bahkan untuk dirimu sendiri.


Terimakasih selalu ku ucapkan.


End 

Written by Nab




Ini udah terlambat belum kalau nulisnya sekarang? Soalnya bener bener sibuk (males) awal tahun ini. Kalau memang boleh berarti lanjut aja lah ya nulisnya.


Ini menjadi tulisan pertamaku di tahun 2026. Entah bakal bagus atau enggak (bukan ngak 🦅🦅🦅) semua itu tergantung kalian yang baca (kayak ada yang baca aja).


Itu foto di atas waktu liburan di Sungai Duri. Ceritanya gini... (wkwk janggal banget ya) Waktu itu bingung ceritanya awal tahun baru mau kemana, soalnya aku sendiri memang ga terlalu menganggap tahun baru ini yang gimana-gimana, tapi kebetulan aja pas libur jadinya pengen keluar yang jauh.


Sempat berunding awalnya dengan teman semasa sekolah yang juga masih menjadi teman ngumpul sampai sekarang, tentang agenda tahun baru ini. Jujurr bingung mau kemana soalnya memang dadakan. Karna ga nemu-nemu akhirnya nyari tempat ngopi aja tapi yang jauh. Padahal kalau dipikir kalau cuma nyari tempat ngopi, di Pontianak juga bejibun tempatnya. Tapi yang kita cari perjalanannya.


Ini tulisan boleh langsung ke intinya ga? Hahaha, bener-bener males mau nulis yang panjang kali lebar, setengah kali alas kali tinggi.


Yang seru itu perjalanannya, bukan tujuannya. Arah pulang menjadi yang sangat berkesan. Dalam perjalanan pulang, teman yang duduk di belakangku bertanya...


"Kenapa kalau perjalanan pulang berasa cepet ya?"


Terus aku jawab dengan ilmu yang secuil ini


"Kalau berangkat, kita belum tau nama tempat atau lingkungannya, jadi setiap ada tulisan pasti kita baca. Dibanding pulang, kita udah merasakan hal yang sama jadinya udah biasa aja dan ga berasa waktu pulangnya."


Sumpah, ga tau ini nyambung atau enggak ya? Haha


Sebentar lagi udah sampai rumah, tapi temen ngajak singgah dulu ke Alfamart buat beli minum. Kami duduk di teras sambil ngobrol tengah malam. Tiba-tiba ada ucapan yang keluar dari mulut temanku...


"Kenapa ya kalau kita pergi tu pasti balik lagi?"


Pikirku ini pertanyaan macam apa, ya tetep aku jawab aja


"Ya namanya pergi pasti kita balik lagi lah, kayak kita ke Singkawang buat jalan-jalan pasti balik ke rumah, atau enggak kita kerja merantau pasti ujungnya pulang ke rumah."


Terus dia nanya lagi


"Tapi kok ada ya, orang yang udah pergi tapi ga pernah balik lagi?"


Simpulkan sendiri.


Sore itu aku pulang dari tempat kerja, menghabiskan sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah. Pulang dengan perasaan yang lelah bercampur dengan berisik di kepala oleh sisa-sisa hari.


Seperti biasa mengendarai motor, sendiri tanpa ada seorang yang membonceng di belakang (namanya juga pulang kerja, ya sendirian). Selalu menikmati arah pulang karena jarang sekali pulang kerja bisa langsung ke rumah, biasanya pulang kerja ya masih di tempat kerja karena jauh kalau mau pulang (merantau soalnya). Sekarang diberi kesempatan untuk bisa dekat dengan rumah.


Perjalanan pulang ga ada yang berbeda, sama seperti hari biasanya. Tapi seharusnya hari ini adalah waktunya untuk mengisi bensin karena indikator sudah memberi isyarat untuk mengisi. Aku putuskan untuk mampir ke pom bensin. Antrian lumayan panjang, alhasil harus menunggu cukup lama tapi itu sudah biasa. Sampai kemudian lagu itu mengalun.


"Sadrah" dari for Revenge.



Sebelum lanjut membaca, putar lagunya biar sama-sama merasakan.


Entah siapa yang memutarnya, aku sedikit terkejut sampai berhenti sejenak. Antrian masih cukup untuk mendengarkan lagu ini hingga selesai. Sampai akhirnya tiba giliranku untuk mengisi, aku berdiri di samping motor sambil menatap jarum petunjuk bensin yang merangkak naik, sementara lirik-liriknya berjalan pelan di kepalaku.


Suasana sore yang ramai dan suara motor yang lalu-lalang, hanya aku yang berhenti sejenak untuk mendengarkan, mengakui, dan membiarkan. Dalam hati berucap "Ah sial, lagu ini"


Setelah pengisian selesai, aku memakai helm untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini aku pelan namun pasti dalam mengendarai motorku.


Sialnya, lagu itu masih terngiang di kepalaku sampai hari ini.


"Mungkin itulah sadrah. Bukan menyerah, tapi menerima bahwa ada hal-hal yang tak perlu dilawan. Bahwa kenangan boleh datang, asal kita tak ikut pergi bersamanya"


Catatan : tulisan ini mulai ditulis tanggal 19 Desember 2025 dan selesai hari ini tanggal 30 Desember 2025.



Hari Minggu yang seharusnya untuk istirahat, mau tidak mau harus direlakan untuk mendatangi acara teman sewaktu kecil. Tak keberatan, memang sudah direncanakan sedari lama.


Siang hari setelah mempersiapkan semua, aku berangkat untuk menjemput teman yang lainnya supaya kami berangkat bersama. Sialnya hujan turun, padahal tidak ada yang bersedih siang ini. Dengan cepat ambil tindakan mencari tempat berteduh di sebelah kiri jalan, yang kebetulan adalah tempat makan.


Kami hanya menumpang berteduh sembari menunggu hujan reda. Memulai obrolan yang udah ga tau berapa lama kami ngoceh sambil berdiri, namun hujan tak kunjung reda. Setelah menunggu lama akhirnya kami putuskan untuk makan di tempat kami berteduh tadi.


Tempatnya bagus, ramai dan punya banyak pilihan menu. Hmm, aku bingung harus memilih menu apa karena sangking banyaknya pilihan. Mataku tertuju pada masakan cumi saus padang atau saus tiram. Tapi di satu sisi aku sudah biasa makan ayam bakar dan itu memang jadi pilihan favorit buatku.


Aku bingung yang awalnya pengen cumi malah kepikiran ayam bakar. Tiba-tiba aku dan temanku mulai bicara bersamaan:


"Kalau kita udah yakin buat milih cumi ga mungkin ada terlintas buat pesan ayam bakar, kalau terlintas berarti bukan cumi yang kita pengen. Tapi ini bukan tentang cumi"


Dari ungkapan tersebut akhirnya aku memilih ayam bakar, lebih tepatnya ayam bakar madu.


Maaf apabila cerita di atas memiliki kesamaan dengan cerita lainnya, yang mungkin pernah kalian dengar, lihat, atau rasakan sebelumnya.


Terimakasih.