Bukit Bendera

2016, (seingat ku) menjadi tahun terakhir mendaki Bukit Bendera. Tapi 10 tahun kemudian, dipertemukan lagi dengan tempat ini. Aku sendiri, kenal bukit pertama ya Bukit Bendera, waktu kemah pramuka dulu. Tapi saat itu puncaknya masih di batu besarnya, belum sampai yang bener-bener atas.

Ga cuma sekali aja ke sini, karena memang dulu taunya ya cuma bukit ini aja. Mau liat fotonya waktu dulu?

Bukit Bendera
Bukit Bendera 2016
Ini waktu masih sekolah ya, sama temen kelas juga ke sini. Belum kenal tu yang namanya peralatan pendakian. Ga ada yang namanya pakai sepatu gunung, yang ada ya pakai sandal kalau ga ya sepatu sekolah wkwk, pun tetep sampai juga.

26 Juli 2026

Di tahun ini, ternyata masih diberi kesempatan untuk mendaki Bukit Bendera. Tapi dengan teman-teman yang berbeda. Kami beranggotakan 7 orang, 4 perempuan dan 3 laki-laki. Seperti biasa, harus melewati penyebrangan dan masuk jalan sawit yang berdebu (saran aja kalau mau aman ambil paling depan haha).

Jalur Pendakian Bukit Bendera
Jalur Pendakian
Pendakian kami mulai. Harusnya kalau ke sini ga tersesat karena banyak petunjuk jalan, kalau dulu belum ada yang kayak gini (si paling duluu, izinn🙏🏻 haha). Perjalanan kali ini santai aja karena ga ada juga yang mau dikejar (kadang kita ngejar dia tapi malah dia ngejar yang lain wkwk).

Spot Foto Bukit Bendera
Belum Siap Haha
Sepanjang jalur, sekiranya ada tempat bagus, kami gunakan buat berfoto sambil istirahat. Biarkan mereka duluan karena kami sedang menikmati perjalanan. Kalau dari medan sendiri memang kebanyakan nanjak dan masih banyak pohon, jadinya ga panas waktu di jalur.

Tanjakan Bukit Bendera
Tanjakan Pangestu
Puncak 5 menit lagi (kata mereka). Tau sendiri kan artinya apa? Kalimat keramat kalau ini wkwk. Kalau sambil menikmati perjalanan juga ga kerasa sebenarnya.

Ehh... tau-tau puncak.

Bukan puncak juga sebenarnya, ini tu tempat buat istirahat, nahh dulunya aku cuma sampe sini aja.

Intinya Aja Udah Wkwk

Sebenarnya inti dari tulisan ini, kami ada acara masak-memasak di puncak wkwk. Selain itu, kami membuat es buah, yang beneran ada es batunya. Kami lumayan lama beristirahat di sini sambil memasak dan menikmati sekitar.
Kegiatan Memasak Bukit Bendera

Makanan di Bukit Bendera

Menikmati makanan sampai lupa mau ke puncak. Kami menyantap makanan sambil menikmati ketenangan di bukit ini.
Hutan Bukit Bendera
Berhenti Sejenak


Iklan Foto Dulu

View Bukit Bendera
Hampir Puncak

Puncak Bukit Bendera

Setelah acara makan-makan selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang sebenarnya (es buah ga ada fotonya, lupa). Sebelumnya, kami packing dulu, memasukkan segala peralatan ke dalam tas untuk dibawa ikut ke atas juga, jadinya nanti tinggal turun aja.

Masih santai karena ga ada yang mau dikejar juga di atas. Sambil istirahat dan sekiranya nemu tempat foto ya berhenti dulu buat foto.
Jalur Puncak Bukit Bendera
Sebelum Puncak

Ga lama berjalan, kami sampai juga di puncak yang sebenarnya. Walaupun butuh effort juga buat naik ke atas, karena mau pakai tangga dulu baru bisa ke puncak. Di atas ga terlalu luas, ga seluas yang di bawah tadi. Tau sendiri kan, kalau udah di puncak kegiatannya ngapain? Ya foto pastinya.





Walaupun dengan teman yang baru, pendakian kali ini menyenangkan. Bukan masalah bukit atau gunung mana yang kita daki, melainkan teman mana yang harus kita pilih saat pendakian. Semoga bisa dipertemukan lagi di kesempatan berikutnya. Entah itu dengan teman baru ataupun tempat yang baru.

Terimakasih Bukit Bendera, untuk kesekian kalinya.
Bukit Kamawangan

Rencana mendaki sudah sedari lama, namun belum tau arah mau kemana bukit yang akan didaki (janggal bener ya, daki). Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaki Bukit Kamawangan, ada opsi lain yaitu Bukit Jamur. Ah, tapi pilihan memang berat di Bukit Kamawangan ini, alasannya karena bukit ini belum seramai bukit yang lain (mungkin) hehe.

Kalau sesuai arahan di Google Maps, kami diarahkan melewati jalan Sungai Pinyuh. Di simpang itu kami lanjut melewati Anjungan dan seterusnya. Haha, ternyata jauh juga lewat sini. Tapi pas pulang nanti ternyata ada jalan yang lebih dekat menuju Pontianak, huhu.
Packing

Pendakian kali ini ga terlalu banyak bawa peralatan yang ga penting makanya masih banyak ruang, atau mungkin packing nya yang udah oke? Haha.

Tapi iya, kami lebih fokus ke logistik buat menikmati makanan di atas nanti wkwk. Jadi beratnya memang di konsumsi, tujuan ke sana juga buat nyari senang dan nyari kenyang haha.

Pendakian Dimulai

Kami memulai pendakian saat matahari mulai terbenam. Ga ada yang mau dikejar, jadinya santai aja jalannya. Selama perjalanan, kami diantar oleh pemandu sampai batas hampir menuju pos 1. Setelahnya kami lakukan pendakian hanya ber 4 saja.
Menikmati Sunset
Matahari sudah mau beristirahat, sempatkan mengambil foto karena momen ini benar-benar bagus dan sayang untuk dilewatkan.

Sepanjang perjalanan, kami menikmatinya. Malam telah datang dan kami harus tetap berjalan dengan sesekali beristirahat. Headlamp kami nyalakan sebagai penerang di jalur (karena selama ini kami tersesat di jalan-Nya).

Area Camp

Sesampainya kami di puncak, kami berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, mengemas barang, dan memasak. Dengan begini kami bisa istirahat bersamaan lalu menyantap masakan yang sudah dimasak tadi.


Malam kami habiskan dengan makan snack dan bercerita, mulai dari horror sampai masa depan (masa depan ga ada yang tau). Satu per satu kami mulai tidur untuk menyambut esok hari.

Pemeran Utama

Sebenarnya kami ke puncak ini pengen nyoba buat es buah (tanpa es) di puncak. Mungkin lebih tepatnya sop buah ya. Udah dari lama pengen buat ini dan percobaan pertama langsung berhasil ya haha.


Akhirnya

Pendakian kali ini menyenangkan karena tempatnya yang bisa dibilang masih asri dan pemandangannya benar-benar bagus. Suasana di sini juga nyaman walaupun pas malam agak susah tidur karena ada yang membawa petasan. Ga tau juga rombongan mana yang iseng sampai bawa petasan, yang pasti mereka orang resek dan caper ya.

Kegiatan selanjutnya kami lakukan untuk mengemas tenda dan packing untuk pulang. Ga lupa yang pasti foto-foto ya haha.











(Baca nya sambil dengerin lagu Bila - Raisa hihii)
Hari demi hari, waktu demi waktu, dan detik demi detik, semua terlewati dengan baik. Banyak hal yang aku pelajari dari setengah perjalanan 2026 ini.

Banyak pula manusia berubah yang tak sama seperti dulu. Namun banyak pula manusia baik yang berdatangan.

Sedangkan aku? Bagaimana denganku? aku baru pertama kali merasakan pengalaman ini, namun aku hanya mencoba menerima, karena pada dasarnya tuhan maha membolak balikan hati umatnya.

Datang dan pergi menjadi hal yang biasa, tetapi sebetulnya hatiku tak ingin menerima itu. Aku selalu menyayangkan jika seseorang pergi dari hidupku.

Aku terlalu sayang kepada semua yang datang ke hidupku, sehingga aku tidak memberi ruang bagaimana jika seseorang itu pergi dari hidupku.

Setengah dari 2026 ini, banyak hal yang terkesan di hidupku sehingga aku lupa bahwa dia juga manusia biasa.

Tapi tak apa, itu semua dapat dijadikan pelajaran bahwa tidak semua manusia itu bisa memahami dan menghargai cinta orang lain.

Setelah itu terjadi, aku berulang kali meyakinkan diri ku bahwa memang semua ada masa nya, tapi lagi dan lagi aku gagal menerima.

Rasa nya banyak rasa yang belum selesai, banyak impian di depan sana namun itu semua terpaksa selesai karena ego atau karena memang masa nya yang sudah habis.

Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik saja untuk seseorang yang sudah pergi dari hidupku. Kebaikan yang sudah mereka berikan, aku tak akan lupa.

Sejahat apapun manusia, pasti memiliki sisi baik nya bukan? Aku tak mungkin melupakan kebaikan manusia lain hanya karena kesalahan.

Biar lah urusan tuhan perihal balas membalas.
Sebagai manusia, aku hanya bisa mendoakan dan lagi lagi menerima.

Lagi pula tak semua manusia bisa paham dan mengerti bukan?

End
Written by Nab


Sehabis Ashar memang berdoa gimana caranya biar ga lembur, udah ga tau mau pake cara apa lagi biar ga lembur wkwk. Kemungkinan besar memang lembur, makanya hanya bisa berdoa. Alhamdulillah doa anak sholeh, mati lampu jadinya ga lembur wkwk. Ga kepikiran juga kalau mati lampu bisa buat gagal lembur wkwk (lagi).


Tapi kalau mati lampu gini ga ada sinyal jadinya. Tak mengapa yang penting ga lembur, karena beneran capek (laki-laki ga boleh capek katanya).


Ga banyak yang bisa dilakukan kalau mati lampu gini. Ada mamang pentol lewat, beli dulu biar uang di dompet ga nganggur. Terpantau lampu masih mati (aman).


Mulai gabut dan akhirnya membuka galeri. Melihat foto-foto pendakian bersama teman-teman, yang sekarang udah ga tau kemana arahnya. Agak kangen ya melihat lembaran lama yang seharusnya bisa kita mulai kembali namun sepertinya ga akan bisa lagi. Begitu juga video, dari yang mentahan sampe yang udah diedit pake CapCut wkwk.


Sepi banget mau dengerin musik, sadar kalau hp ga ada sinyal. Tapi nyoba iseng aja ehh ternyata bisa. Padahal ga ada download sebelumnya. Ah entah lah yang penting bisa mendengarkan musik. Oh iya ini pake aplikasi Metrolist, karena sebelumnya aplikasi Spotify lagi error dan ga bisa login. Akhirnya keterusan pake aplikasi ini.


Jadi lebih menghayati ya kalau mati lampu gini sambil dengerin musik wkwk (asal bukan horeg aja). Karna kalau lampu udah nyala juga sibuk sama hal-hal yang ga penting, waktu habis buat scroll reels doang.


Hehe akhirnya punya waktu juga buat nulis hal yang ga penting lagi. Ga ada yang baca juga huhu. Ga tau sampe kapan mau nulis hal yang ga penting kayak gini, when ya?


Yaa seenggaknya kalau udah tua nanti tulisan ini masih ada.