29 Januari 2026, sehabis pulang kerja, tak langsung pulang namun singgah dulu untuk sekedar minum kopi. Nama tempatnya Makmur Kopitiam, yang beralamat di Jl. Parit Bugis, Arang Limbung, Kec. Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat 78391.

Aku berdua dengan teman, sebut saja namanya Loy, sedang membahas rencana untuk mendaki Tiong Kandang. Mulai dari persiapan apa saja yang mau dibawa dan yang pasti soal biaya keberangkatan. Tak lama datang teman lagi, sebut saja namanya Dio. Kami lanjut membahas rencana kita kedepannya. Sudah memikirkan untuk penyewaan alat seperti tenda dan lain-lain karena rencananya kami akan bermalam di puncak.



Setelah pembahasan cukup panjang dan kami iseng buka akun Instagram tiongkandangofficial, ternyata terdapat aturan yang salah satunya adalah harus menggunakan jasa pemandu. Niat kami memang mau berangkat berempat saja (teman kami satu lagi sebut saja namanya Nang). Dengan adanya aturan tersebut membuat kami agak ragu juga untuk berangkat ditambah aturan yang lainnya. Dengar kabar juga ternyata di sana tidak boleh bermalam, jadi intinya kita harus tektok.


Ahh gagal lagi ya ternyata dan kami memutuskan untuk pindah bukit lagi. Mencoba menghubungi teman yang sudah biasa mendaki gunung, dia merekomendasikan bukit Telogah dan Sepancong.




5 Februari 2026, aku, Loy dan Nang, pergi ke RSAU Dr. MOHAMMAD SUTOMO untuk menjenguk Dio. Ya dia sedang sakit sebelum pendakian dimulai. Senda gurau terjadi di dalam kamar rumah sakit, sampai akhirnya kita bahas lagi tujuan kita untuk pergi muncak.


Kami sepakat untuk memilih Sepancong sebagai tujuan akhir. Niat kita berangkat rencana tanggal 15 Februari. Kali ini tidak akan ada yang berubah lagi.



25 Januari 2026, hari Minggu yang udah pasti libur kerja kalau di Pontianak. Lagi dan lagi mencari kesibukan yaitu keluar dari rumah. Kali ini keluarnya agak jauh tapi masih di Pontianak, nama tempatnya Pelabuhan Senghie. Tapi waktu itu bukan di pelabuhannya, kalau di maps nama tempatnya Dermaga Kapuas Besar.



Tempatnya bagus buat nyantai sore, kalau udah malam, sepi si ga seramai waktu sore. Memang baru pertama kali ke sini, seringnya di Waterfront Pontianak. Mungkin kalau dibilang minusnya cuma di harga makanannya aja ya di dermaga ini, agak lumayan juga untuk sekelas cemilan. Tapi yang buat nyaman lagi bagi kalian yang Muslim ga perlu jauh-jauh buat nyari tempat sholat karena di Pasar Rakyat Tengah, menyediakan mushola. Letaknya juga ga jauh dari dermaga ini.


Oke kita bahas bukit lagi ya. Lagi santai tiba-tiba kawan ngasih saran buat pindah bukit. Merasa Bukit Telogah cukup mudah (padahal belum ada yang pernah naik sebelumnya), akhirnya coba ganti bukit. Liat di postingan kalau Telogah itu hamparan luas gitu, ga yang semak-semak dan banyak medannya. Nah temen nyaranin ke Tiong Kandang. Kalau dilihat si banyak rintangannya ya, dan pemandangan selama perjalanan juga bervariasi (ini semua berdasarkan postingan doang).


Akhirnya sepakat pindah bukit, dari yang awalnya Telogah pindah ke Tiong Kandang. Intinya cuma mau nyari tantangan aja (padahal baru awalan mendaki hitungannya).


Udah malam, perut lapar dan kita putuskan buat nyari RM Padang. Posisi memang lapar, jadinya mau yang porsi kenyang gitu. Kita makan masih di Pontianak, nama tempatnya RM Kota Sari Jaya yang beralamat di Jl. Johar No.48, Tengah, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78116. Buat kalian yang memang lapar, tempat ini memang cocok si. Lumayan ramai juga yang makan di sini, dan yang lebih penting lagi harganya sangat-sangat bersahabat. Malah lebih murah di sini daripada jajan di tepian ya. Cuma kita ga bisa dapat pemandangan si, dapat kenyangnya boleh lah.


Habis makan, kami putuskan buat pulang ke rumah karena besok harus kerja.



6 Januari 2026, nama tempatnya Kopi Enak Rasa, beralamat di Jl. Parit Bugis Jl. Musa Saleh No.Samping, Sungai Raya, Kec. Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat 78391.


Baru datang langsung pesan kopi (padahal bukan penikmat kopi), tapi ada susu si harusnya aman. Habis pesan langsung bayar, setelahnya tinggal duduk aja nanti pesanannya bakal diantar.


Oh iya, kami berempat duduk di meja yang sama. Ngumpul aja ngomongin hal-hal yang seharusnya laki-laki obrolin (ini jadinya ngomong atau ngobrol?). Di tengah-tengah obrolan, ada bahasan untuk berpetualang yang jauh. Sebelumnya kami memang pernah ke Sui Duri buat ngopi yang jauh karna bertepatan dengan libur tahun baru. Kali ini pengen lagi rasanya pergi yang jauh tapi bukan ke pantai.



Memanfaatkan momen libur Imlek, kami memutuskan untuk mendaki gunung (lebih tepatnya bukit). Mencoba mencari referensi bukit untuk didaki, akhirnya sepakat untuk memilih Bukit Telogah yang ada di Sanggau.


Kalau dilihat-lihat memang bagus bukitnya, dan pas banget buat yang suka foto-foto. Ini cuma liat di TikTok aja, karena kami berempat belum pernah ke sana. Emang bener-bener cuma pengen pergi jauh aja buat coba mendaki.


Keputusan malam itu kayaknya udah bulat untuk menjadikan Bukit Telogah sebagai tujuan berpetualang nanti. Tapi kami cuma merencanakan, yang memutuskan tetap yang di atas (Allah).



Setelah aku merilis tulisan pertama ku itu, banyak yang menyayangkan kisah kita berdua. Jangankan orang lain, diriku sendiri sebenarnya juga menyayangkan hal itu, tapi apa boleh buat?


Baca juga : 01 - 2025


Tak hanya orang lain yang membaca, namun dia si tokoh utama juga membaca dan juga memberiku sedikit pesan dan meyakinkan bahwa apakah itu benar dirinya. Dan tentu saja aku jawab dengan jujur. 


Setelah merilis tulisan itu, aku mulai membiasakan diri untuk tak memikirkannya. 


Cukup berhasil, tetapi aku sedikit menjauh dari kalangan karena aku butuh waktu untuk mencerna. Lalu bagaimana dengan si dia tokoh utama itu? Sejauh ini sepertinya baik baik saja, hanya aku yang terlalu berlarut larut. 


Rasanya rindu itu mulai muncul namun dia adalah orang yang tak boleh ku tunggu dan tak boleh ku hubungi lagi. Aku menghargai nya agar tak mengganggu.


Namun beberapa kali terlintas di kepala ku, bagaimana kabarnya? Apakah dia baik saja seperti yang ku lihat? Atau bahkan sebaliknya? Entahlah, aku pun tak menemukan jawaban pasti nya. Aku pun tak mau mencari tahu lebih lanjut. Biarkan saja seperti ini.


Dan nama nya juga sudah lama tidak ada di dalam percakapan ku dengan beberapa orang, entah aku yang enggan membahas nya atau memang aku yang mulai melupakan.


Sedikit mundur di 2025, rasanya baru kemarin kita bertemu dan banyak hal yang di bicarakan tapi setelah sadar, itu semua sudah terlewat jauh. Namun rasanya aku berhenti di tahun itu, entahlah.


Waktu tulisan pertama ku rilis, aku tak menyangka bahwa dia akan memberiku sedikit pesan yang isi nya dia bertanya tanya. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang ku tulis, tapi aku juga tidak berusaha membuat dia percaya, biarkan dia dengan persepsi nya sendiri.


Aku tak peduli dengan reaksi dia di hari itu yang di mana saat tulisan pertama ku rilis, namun saat aku menulis tulisan ini, justru aku mulai memikirkan reaksi dia ketika membaca tulisan ku yang sekarang ini.


Entah beberapa hari ini, dia mulai menyita pikiran ku lagi, cukup hanya pikiran ku, bukan hati ku.


Dan juga tanpa alasan aku menulis lagi, mungkin aku hanya rindu dengan nya? Ah entahlah biar ini jadi urusan ku dan tuhan yang tau jawaban nya.