Sore itu aku pulang dari tempat kerja, menghabiskan sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah. Pulang dengan perasaan yang lelah bercampur dengan berisik di kepala oleh sisa-sisa hari.


Seperti biasa mengendarai motor, sendiri tanpa ada seorang yang membonceng di belakang (namanya juga pulang kerja, ya sendirian). Selalu menikmati arah pulang karena jarang sekali pulang kerja bisa langsung ke rumah, biasanya pulang kerja ya masih di tempat kerja karena jauh kalau mau pulang (merantau soalnya). Sekarang diberi kesempatan untuk bisa dekat dengan rumah.


Perjalanan pulang ga ada yang berbeda, sama seperti hari biasanya. Tapi seharusnya hari ini adalah waktunya untuk mengisi bensin karena indikator sudah memberi isyarat untuk mengisi. Aku putuskan untuk mampir ke pom bensin. Antrian lumayan panjang, alhasil harus menunggu cukup lama tapi itu sudah biasa. Sampai kemudian lagu itu mengalun.


"Sadrah" dari for Revenge.



Sebelum lanjut membaca, putar lagunya biar sama-sama merasakan.


Entah siapa yang memutarnya, aku sedikit terkejut sampai berhenti sejenak. Antrian masih cukup untuk mendengarkan lagu ini hingga selesai. Sampai akhirnya tiba giliranku untuk mengisi, aku berdiri di samping motor sambil menatap jarum petunjuk bensin yang merangkak naik, sementara lirik-liriknya berjalan pelan di kepalaku.


Suasana sore yang ramai dan suara motor yang lalu-lalang, hanya aku yang berhenti sejenak untuk mendengarkan, mengakui, dan membiarkan. Dalam hati berucap "Ah sial, lagu ini"


Setelah pengisian selesai, aku memakai helm untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini aku pelan namun pasti dalam mengendarai motorku.


Sialnya, lagu itu masih terngiang di kepalaku sampai hari ini.


"Mungkin itulah sadrah. Bukan menyerah, tapi menerima bahwa ada hal-hal yang tak perlu dilawan. Bahwa kenangan boleh datang, asal kita tak ikut pergi bersamanya"


Catatan : tulisan ini mulai ditulis tanggal 19 Desember 2025 dan selesai hari ini tanggal 30 Desember 2025.



Hari Minggu yang seharusnya untuk istirahat, mau tidak mau harus direlakan untuk mendatangi acara teman sewaktu kecil. Tak keberatan, memang sudah direncanakan sedari lama.


Siang hari setelah mempersiapkan semua, aku berangkat untuk menjemput teman yang lainnya supaya kami berangkat bersama. Sialnya hujan turun, padahal tidak ada yang bersedih siang ini. Dengan cepat ambil tindakan mencari tempat berteduh di sebelah kiri jalan, yang kebetulan adalah tempat makan.


Kami hanya menumpang berteduh sembari menunggu hujan reda. Memulai obrolan yang udah ga tau berapa lama kami ngoceh sambil berdiri, namun hujan tak kunjung reda. Setelah menunggu lama akhirnya kami putuskan untuk makan di tempat kami berteduh tadi.


Tempatnya bagus, ramai dan punya banyak pilihan menu. Hmm, aku bingung harus memilih menu apa karena sangking banyaknya pilihan. Mataku tertuju pada masakan cumi saus padang atau saus tiram. Tapi di satu sisi aku sudah biasa makan ayam bakar dan itu memang jadi pilihan favorit buatku.


Aku bingung yang awalnya pengen cumi malah kepikiran ayam bakar. Tiba-tiba aku dan temanku mulai bicara bersamaan:


"Kalau kita udah yakin buat milih cumi ga mungkin ada terlintas buat pesan ayam bakar, kalau terlintas berarti bukan cumi yang kita pengen. Tapi ini bukan tentang cumi"


Dari ungkapan tersebut akhirnya aku memilih ayam bakar, lebih tepatnya ayam bakar madu.


Maaf apabila cerita di atas memiliki kesamaan dengan cerita lainnya, yang mungkin pernah kalian dengar, lihat, atau rasakan sebelumnya.


Terimakasih.