15 April terakhir kali menulis. Udah lama banget ya ga ngobrol lewat tulisan, sampe akhirnya bisa ketemu lagi hari ini 21 Juni. Iyaa, tanggal 21 bukan tanggal yang lain.


Bulan lalu tepatnya bulan Mei, waktu kerasa lama banget ya beda sama bulan Juni yang bener-bener cepet dan ga kerasa udah hampir di penghujung bulan. 2025 tinggal setengah tahun lagi dan kita masih tertinggal, ehh bukan kita tapi lebih tepatnya saya yang tertinggal.



Malam ini ditemani oleh kopi dan lagu random dari spotify. Ehh bukan kopi panas melainkan es kopi. Sebenarnya melawan hukum yang saya buat sendiri karena bukan penikmat kopi ataupun hal yang berhubungan dengan suhu panas. Tapi kopi yang ini ada rasa coklatnya jadi aman lah ya. Ditambah lagi kopinya dingin bukan panas jadi ga ada yang perlu dikhawatirkan.


Kemarin malam kepala udah mentok dan bingung mau lanjut nulis yang kayak gimana, jadinya istirahat dulu. Bingung juga mau ngapain.


Balik lagi ngomongin bulan Juni yang cepet banget rasanya. Banyak kejadian sedih di pertengahan tahun 2024 ini. Entah ini peralihan dari senang ke sedih atau apalah itu saya juga ga tau.


Banyak cerita ada yang HPnya rusak, kehilangan HP, kehilangan uang Rp500.000, kemalingan motor pas subuh, dikeluarkan dari pekerjaan, sakit-sakitan, uang udah mulai habis, istri di rumah sakit dan butuh banyak biaya, kesendirian, teror pencemaran nama baik, gaji yang belum dibayar, orang rumah yang perlu biaya makan, bisnis yang lagi seret, ga bisa bantu orang terdekat, perkelahian sampai masuk kantor polisi, denda Rp5.000.000, babak belur dan masih banyak lagi kejadian yang rasanya datang bertubi-tubi di bulan Juni ini.


Yang saya tulis di atas tidak semua terjadi pada diri saya, ya kali saya sudah beristri kan. Kejadian di atas adalah kejadian yang bisa saya rasakan karena ada di sekeliling saya. Rasanya ikut sedih ya dengarnya posisi juga semua lagi susah untuk saling membantu.


Bulan Mei, saya ga sempat nulis karena menikmati bulan yang sangat lama. Ga banyak kejadian sedih walaupun tetap masih ada. Sangking menikmatinya atau bingung mau nulis apa jadinya ga ada yang ketulis di bulan Mei.


Bulan Juni tinggal beberapa hari lagi, semoga semua masalah cepat usai dan semoga juga di bulan Juli banyak kebahagiaan yang menanti.


Ga ada yang salah dengan bulan.



Bulan ini, bulan yang penuh kejutan. Berbagai peristiwa banyak saya alami mulai dari yang lucu sampai yang menyedihkan. Padahal di bulan ini sejatinya kita harus bahagia karena bulan ini bertepatan dengan bulan puasa. Tapi ternyata semua sudah berlalu dan esok kita akan menyambut lebaran tanda berakhirnya perjuangan kita selama puasa kali ini. Walaupun masih banyak perjuangan lain yang harus kita hadapi lagi.


Ngomongin Takjil


Makanan yang biasanya hadir di bulan puasa ini memang bisa menggugah selera apalagi kita yang sedang menjalankan ibadah puasa. Tapi tidak hanya untuk kita yang sedang menjalankan ibadah puasa saja, melainkan orang-orang di luar puasa juga ikut senang saat berburu takjil.


Baca juga: Untuk Pertama Kalinya Benci Dingin


Ada sedikit cerita tentang takjil. Saat masih awal puasa, saya pergi ke pasar untuk membeli barang. Saya melewati pasar dan tiba-tiba macet dan terpaksa harus antri. Posisi saya sedang menggunakan motor di jalan raya. Saya kira ada apa ternyata sedang pembagian takjil gratis yang dibagikan di depan kantor camat. Di lain kesempatan saat saya pulang dari kerja, saya dari jauh sudah melihat orang sedang membagikan takjil. Tapi saat saya sudah mendekat ternyata sudah habis dan habisnya itu pas di saya.


Saya jadi berpikir tentang dua kejadian di atas. Sesuatu yang tidak kita kejar terkadang akan datang dengan sendirinya tapi sesuatu yang terlalu kita kejar maka sesuatu tersebut malah makin menjauh dari kita. Ini entah benar atau tidak saya juga tidak bisa memastikannya.


Pekerjaan


Bekerja di bulan puasa memang ada tantangan tersendiri. Selain cuaca yang panas yang menyebabkan kita menjadi lemah, kita juga dihadapkan dengan teman yang tidak berpuasa. Yaa ga ada salahnya juga, toh kita juga ga bisa maksa mereka untuk berpuasa. Tapi melihat orang-orang minum es membuat pikiran kemana-mana wkwk. Padahal kalau udah niat jangankan es satu gelas, satu gentong aja juga ga bakalan ngaruh. Tapi ga bisa bohong yang namanya puasa pasti haus.


Masa Depan


Di sela-sela kegiatan bekerja, saya biasanya ngobrol dengan teman saya. Random aja sebenarnya kadang ga jelas juga yang dibahas yang penting untuk menghilangkan stres aja. Tapi ada saatnya serius tentang obrolan masa depan. Khawatir tentang masa depan yang ga pasti membuat kita kadang berpikiran buntu padahal ga boleh ya sebenarnya berpikiran seperti itu.


Pernah ngobrol ngomongin nikah. Yaa laki-laki mana yang ga mau nikah? (mungkin ada juga ya yang ga mau nikah) Ada yang berpikiran harus segera menikah karena memang sudah waktunya mau kapan lagi kalau bukan sekarang, ada yang bilang menikah sebelum umur 30 tahun, ada lagi yang bilang kalau menikah harus udah punya segalanya dulu baru menikah. Semua punya alasan untuk menikah bagi mereka yang ingin menikah.


Teman saya mematahkan semua pendapat di atas. Dia bilang "emang nyampe nikah?" Kalimat ini mungkin singkat namun bermakna dalam. Saat kita bingung dan sibuk memikirkan pernikahan, kita malah lupa tentang kematian kita yang sudah pasti. Nikah itu hal yang belum pasti dan masa depan yang pasti hanyalah kematian. Agak kaget juga awal dengar tapi kalau dipikir-pikir betul juga.


Bukan jadi alasan buat kita untuk tidak menikah tapi alangkah baiknya kita juga ingat diri kita sudah menginjak dewasa dan mesti banyak yang harus diperbaiki apalagi tentang akhirat. Mungkin itu maksud dari ucapan teman saya.


Ya bulan ini ga cuma kegembiraan yang saya dapat, kesedihan juga saya rasakan. Tapi kembali lagi kepada tulisan sebelum-sebelumnya mengenai kesedihan. Hidup memang harus ada kesedihan atau bisa dikatakan harus ada yang hancur supaya hidup kita ada warnanya.


Kalau kita tidak bisa memberi warna untuk hidup kita, mungkin kita masih bisa memberi warna di kehidupan orang lain.


Catatan:

Seingat saya tulisan ini saya tulis pada malam takbir dan ga sempat untuk posting karena kecapean. Dan akhirnya baru bisa posting sekarang saat lebaran.



Dingin adalah kesukaan saya dari dulu apalagi kalau udah nyangkut masalah makanan ataupun minuman, pasti dingin yang dicari.


Baca juga:

Tapi akhir-akhir ini untuk pertama kalinya saya benci dengan dingin. Entah kenapa saya tiba-tiba tidak ingin merasakan dingin seperti dulu. Minum yang dingin saja rasanya udah ga kuat kayak dulu lagi padahal baru sedikit minum langsung menggigil. Bangun tidur biasanya nyaman ini malah rasanya kedinginan apalagi di bagian kaki, ga kayak biasanya jadi kayak ada yang beda padahal dingin kesukaan saya.


Bagaimana dengan panas?


Benci dingin bukan berarti saya jadi suka dengan panas. Saya tetap tidak suka panas dari dulu. Saya berpikir bahwa kebencian saya terhadap dingin adalah bersifat sementara dan mungkin suatu saat saya bisa kembali lagi menerima dingin di kehidupan saya. Berbeda dengan panas yang mungkin saya tidak suka sedari awal. Tapi bukan berarti saya tidak membutuhkan panas dalam kehidupan saya.


Kalau hujan?


Walaupun hujan mengakibatkan hawa di sekitar kita menjadi dingin, saya tidak keberatan hujan datang di kehidupan saya. Sadar bahwa hujan akan selalu membawa kesedihan pada manusia dan nyatanya kita juga butuh kesedihan itu.


Saya percaya bahwa apabila turun hujan di suatu tempat maka tempat itu sedang ada yang bersedih. Entah itu karna asmara, keluarga, pekerjaan ataupun masalah lain yang bisa membuat orang tersebut sedih.


Apabila hujan yang turun itu gerimis maka kesedihannya tidak perlu dikhawatirkan. Semakin hujannya deras maka kesedihannya semakin dalam dan pasti butuh perhatian lebih dibandingkan dengan hujan yang turunnya rintik-rintik. Tapi kalau di tempat itu hujannya sampai mengakibatkan banjir, kayaknya udah susah ditolong kesedihannya. Entah itu terlalu banyak yang bersedih atau hanya ada satu orang yang bersedih namun tangisnya sangat hebat sampai mengakibatkan banjir.


Ini semua hanya kepercayaan saya terhadap hujan karena saya sebelumnya juga banyak menulis tentang hujan.


Baca juga: Hujan

Membenci dingin bukan berarti harus benci dengan hujan dan bukan berarti pula harus suka dengan panas.


Kesedihan diperlukan dalam kehidupan. Kita tidak tau apa itu bahagia tanpa kesedihan. Hujan harus datang membawa kesedihan dalam hidup kita tapi ingat setelah hujan itu reda ada pelangi yang datang menyambut kita. Kesannya kayak


"Kamu kemana aja baru nongol?"


Yahh akhirnya pelangi yang bisa membuat kita tersenyum kembali dan tugas hujan telah selesai. Semoga segera diberi kesembuhan, percayalah pelangi akan datang.



Kebiasaan memikirkan sesuatu yang berlebihan membuat kita malah semakin malas untuk melanjutkan hidup, apalagi kalau sudah berbicara tentang fakta.


Ga cuma itu, overthinking selalu membuat kita merasa ga berguna dan malah menyalahkan diri sendiri padahal ga semua informasi yang kita dapat harus kita telan begitu saja.


25 Desember 2023


Iya, tulisan di atas terakhir ditulis tanggal 25 Desember tahun lalu. Dan kita bisa sambung lagi menjadi tulisan yang utuh pada malam hari ini.


Kenapa malam? Ya, malam memang waktu yang tepat untuk memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan terlalu jauh. Hal ini biasa disebut dengan overthinking. Dari pagi sampai sore biasa kita habiskan aktivitas kita dengan bekerja, belajar, mencari loker, membantu orang tua, menjalankan usaha ataupun yang lainnya sehingga ga ada waktu lagi buat berpikiran yang ga jelas. Tapi saat malam hari (kecuali lembur) kita memiliki waktu untuk sekedar merenung memikirkan masa depan yang belum pasti. Sebenarnya ga cuma masa depan, bisa hal-hal lain yang membuat kita berpikiran terlalu jauh dan berlebihan.


Kadang menyakitkan ya kalau kita sudah berada di jam overthinking. Semua yang kita lihat kayaknya bisa bertentangan dengan keinginan kita. Padahal semua itu belum tentu sama dengan apa yang kita lihat saat kita berada di waktu pagi ataupun sore hari. Atau mungkin pikiran kita pada malam hari ada benarnya juga tapi hal tersebut ga begitu parah saat berada di waktu pagi ataupun sore hari.


Padahal sejatinya pikiran kita sendiri yang malah bisa menghancurkan diri kita (nulis bisa tapi melakukan susah juga). Ga cuma kalian yang merasakan seperti ini, saya juga pernah di posisi ini dan mungkin sudah terjadwal saat matahari sudah mulai terbenam. Walaupun ada serunya juga kalau ada yang hancur sedikit dalam hidup kita. Kalaupun mulus terus jalan hidup kita kayaknya malah makin curiga ada hal besar yang malah lebih mudah menghancurkan diri kita.


12 Januari 2024


*Niat hati ingin menulis, tapi karena banyak masalah yang tiba-tiba datang menjadikan pikiran buntu dan ga bisa nulis.


4 Februari 2024


Akhirnya tulisan ini berlanjut hari ini di bulan ke dua.


Ngomongin overthinking memang ga ada habisnya. Udah ada niatan pengen berhenti mikir yang aneh-aneh, tapi pas scroll IG, ada aja yang bisa buat kita balik overthinking lagi. Arghh, memang agak nyebelin ya kalau dipikir-pikir. Padahal sesuatu tersebut belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan tapi seolah-olah kita sudah tahu bahwa hal yang kita pikirkan pasti akan terjadi.



Ada banyak yang membuat kita overthinking. Soal keluarga misalnya, mempunyai keluarga harmonis mungkin cita-cita semua orang. Antara orang tua dan anak bisa akur dan saling tukar pendapat tapi kenyataanya banyak orang malah iri melihat keluarga yang harmonis dikarenakan keluarganya sendiri yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak masalah, susah diatur, bahkan menjadi beban antara satu dengan yang lainnya.


Ada lagi tentang masa depan. Yang dari kecil banyak memiliki cita-cita, tapi sekarang malah kehilangan arah dan pasrah dengan keadaan. Melihat orang lain yang sukses di usia muda membuat sebagian orang iri dan bisa-bisa dengki karena tidak bisa sama derajatnya dengan yang seusianya. Berpikir bahwa takut kedepannya tidak bisa menjadi apa-apa, padahal sekarang kita juga udah di fase ga jadi apa-apa kan? (Hehe jadi nambah overthinkingnya lagi ni).


Masalah pasangan. Buat kalian yang mempunyai pasangan pasti ada aja yang buat overthinking, mulai dari sikap dan sifatnya sehari-hari. Rasanya pengen marah aja ya padahal semua yang kita pikirkan ga ada yang bener dan malah cuma tuduhan tanpa bukti aja. Kesalahpahaman sepertinya sudah biasa terjadi pada pasangan yang terpenting kita bisa menjelaskan dengan baik untuk menenangkan pasangan kita (ngomong aja enak kayaknya ya tapi sekali dijalani kok berat juga). Tapi kalau dipikir-pikir lucu juga ya, seandainya yang kita pikirkan benar-benar terjadi.


Apa yang harus dilakukan saat terjadi overthinking?


Sebenarnya harus dihindari tapi susah banget ya. Ada orang yang bisa dengan sendirinya melupakan sesuatu dan mengalihkannya kepada kegiatan yang lain biar ga kepikiran. Tapi ada juga sebagian orang yang harus ditenangkan dulu biar ga makin kepikiran tentang masalah yang dia hadapi sekarang.


Tapi kalau kembali ke tulisan di atas tadi, ada serunya juga kita overthinking karena hidup itu harus ada yang hancur dikit biar ada yang berwarna, kalau mulus-mulus aja kayaknya bukan hidup namanya.


Yaa, ujung-ujungnya ga ada solusi juga kan buat yang lagi overthinking, karena saya juga lagi banyak pikiran juga aslinya wkwk. Diketawain aja siapa tau jadi nambah pusing kan wkwk.


Tulisan cuma sekedar tulisan dan ga ada tujuan yang pasti tulisan ini dibuat. Ga ada solusi ataupun cara karena sama sama bingung mau gimana lagi ya jawabannya jalanin aja. Pusing iya dan kalau pengen ga pusing ya kalau udah di surga nanti.


Udah malam, selamat overthinking lagi...


*tulisan selesai pada hari Senin, 5 Februari 2024