Sudah 1 tahun lebih saya berada di sini, tahun kemarin 7 bulan dan tahun ini 7 bulan juga. Rasanya sudah lama sekali ya meninggalkan kampung halaman. Apakah orang di rumah rindu atau mungkin biasa-biasa saja? Sebenarnya saya juga bingung kalau pun pulang saya harus apa di rumah tapi kalau lama-lama di sini juga apa yang ingin saya perbuat. Menjelang hari-hari akhir memang membosankan karena kita kebanyakan menunggu apalagi menunggu yang tidak pasti.


Kedatangan saya di sini yang kedua kalinya memang sudah direncanakan karena melanjutkan pekerjaan tahun lalu. Siap tidak siap memang harus bertemu dengan orang-orang lama yang sudah pernah kita tinggalkan sebelumnya. Tapi di kesempatan kali ini, saya juga banyak dipertemukan dengan orang-orang baru.


Tentu suasana tahun ini dan tahun sebelumnya berbeda. Semua ada baik dan buruknya, yang jelas banyak baiknya. Suasana tahun lalu cenderung lebih berisik dan seru dikarenakan ramai. Dibandingkan tahun ini yang ga seramai tahun kemarin, tapi suasananya tetap masih dapat walaupun dinikmati dengan cara yang berbeda. Dan yang pasti tahun ini sudah banyak kenal orang di sini jadinya ga perlu capek-capek lagi kenalan satu persatu.


Di tahun ini saya juga sempat berpikir bahwa waktu yang dihabiskan untuk tahun ini akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tapi nyatanya malah lebih lama. Mungkin karena banyak kendala yang menghambat pekerjaan sehingga menjadi lama.


Sekarang Khoir Lagi Apa?


Tulisan ini saya tulis hari Rabu, 27 Desember 2023. Hari sebelumnya saya sudah menulis judul tapi belum ada isinya (biasanya lagu itu belum ada judul, eh ini malah belum ada isi). Bingung sebenarnya mau nulis kayak gimana, padahal di dalam kepala ini banyak banget yang mau dituangkan ke dalam tulisan (walaupun tulisannya ga ada yang baca wkwk). Tapi coba-coba deh nulis sedikit eh ternyata lama-lama jadi juga tulisannya kan.


Lagi duduk dan menulis ditemani kipas angin yang sedari Maghrib tadi sudah nyala. Werr werrr, keliatan sepi banget ya hari-hari akhir tanpa adanya keramaian. Padahal kita butuh waktu untuk sendiri walaupun hanya sekedar istirahat ataupun nonton. Tapi kalau tiap hari bosan juga ya sampai mata jadi bengkak ni karena kebanyakan tidur dan main hp.


(Bentar-bentar, istirahat dulu nulisnya lanjut besok lagi kayaknya ya hehe)


Sabtu, 30 Desember 2023


Waduhh udah 3 hari lalu ya saya terakhir menulis. Tadi habis dari lembur (menjelang hari akhir masih nemu lembur). Tapi harus dikerjakan supaya bisa pulang ke rumah, walaupun ga bisa hari ini juga pulangnya.  Pekerjaan tinggal 1 lagi (harusnya) setelah itu baru bisa pulang. Ehh bentar kayaknya harus nunggu bentar lagi baru bisa pulang. Ga apa-apa selagi kita menjalaninya dengan damai pasti semua akan baik-baik saja.


Tahun Baru


Kayaknya tahun baru masih di sini. Ga masalah sebenarnya karena tahun sebelumnya saya juga tahun baru berada di sini (Sambas). Lagian di rumah juga ga ada tradisi ngerayain tahun baru jadinya ga ada yang perlu dikejar untuk pulang ke rumah.


Tapi belum lama ini saya mendapatkan undangan dari teman SD saya yang akan melangsungkan pernikahan. Selamat sebelumnya untuk teman saya yang udah lama banget bertemannya dari TK, SD, MTs dan MA. Ya memang ketemu terus dari dulu sampai lulus sekolah. Sekali lagi selamat dan semoga yang lain bisa cepat menyusul ya (yang nulis kapan?) Wkwk belum dulu ya nanti dulu masih banyak yang harus dipikirin kayaknya.



Minggu, 31 Desember 2023


Kembali lagi masih mau bahas tentang kepulangan saya. Maaf banget baru nongol lagi karena lagi ngumpulin mood buat nulis.


Hari kepulangan saya ke rumah semakin dekat. Rasanya memang tidak sabar untuk bertemu keluarga dan teman-teman. Masih banyak juga yang harus ditemui saat pulang nanti dan saya harus siap berpisah juga dengan orang-orang yang berada di sini. Tapi ga menutup kemungkinan kita akan bertemu lagi di kemudian hari. Di tempat yang sama ataupun di kesempatan yang berbeda. Walaupun sepertinya susah untuk bisa bertemu kembali.



Terimakasih Sambas untuk semua ceritanya di kesempatan kedua ini.


(Saya pulang hari Kamis, 4 Januari 2024 dan sampai di rumah pada hari Jum'at, 5 Januari 2024)


Semua tulisan tentang Sambas bisa dilihat di sini : Sambas



Kita diciptakan berpasang-pasangan di dunia ini. Pagi dengan malam, panas dengan hujan, bising dengan tenang, dan bisa juga ramai dengan sepi. Walaupun kita memiliki banyak teman, tapi ada hal yang masih membuat kita merasa kesepian.


Baca juga : Semakin Sedikit yang Kamu Ketahui, maka akan Semakin Baik


Orang-orang yang berada di sekeliling kita, biasanya membawa energi positif yang bisa membuat kita merasa nyaman ataupun tenang. Tapi kembali lagi, semua itu hanya bersifat sementara. Di sela-sela kegembiraan kita pasti ada rasa kesendirian yang tiba-tiba muncul entah darimana datangnya. Yang awalnya kita bisa tersenyum tapi malah membuat kita ingat lagi akan kesedihan ataupun kesepian yang menyelimuti kehidupan kita.


Teman sekolah, teman di sosial media, keluarga, kenalan, tetangga, warga sekitar dan masih banyak yang lainnya, walaupun kita mempunyai itu semua tapi sejatinya kita masih saja kesepian. Kesepian mungkin sudah menjadi teman kita dari kita lahir atau semenjak kita mulai mendapatkan masalah.


Melihat orang lain yang tiap hari menelpon keluarganya, kita juga merasa senang melihatnya. Padahal kita tidak tahu sedang dalam masalah apa mereka setiap harinya. Tak hanya itu, yang setiap harinya gembira dengan teman-temannya belum tentu gembira saat ia sudah pulang ke rumahnya. Orang yang selalu menghibur teman-temannya sebenarnya juga butuh dihibur karena mereka juga mempunyai masalah yang mungkin lebih berat daripada kita saat ini.


Sawang sinawang, ungkapan dari bahasa Jawa yang memiliki makna tentang membanding-bandingkan kegidupan kita dengan kehidupan orang lain. Contoh yang sangat sederhana misalnya tentang masalah gaji. Melihat atau mendengar gaji orang lain yang mungkin lebih besar daripada kita rasanya mungkin ada sedikit iri dalam diri yang membuat kita beranggapan bahwa hidup dia lebih layak dibandingkan dengan orang yang memiliki gaji lebih sedikit dari mereka. Padahal mungkin saja banyak beban yang ditanggungnya maka Allah memberikan mereka gaji yang lebih karena sesuai dengan yang dibutuhkannya. Tapi kebanyakan orang beranggapan salah dan akhirnya terjadilah iri dengki.


Melihat kehidupan orang lain yang sepertinya senang terus tanpa ada masalah. Padahal kita tidak tahu, bisa jadi mereka membungkus kesedihan mereka dengan tawa sehingga kita melihat mereka senang terus tanpa adanya beban. Tapi yakin mereka pasti pernah berada di fase ksepian, walaupun mereka sudah memiliki segalanya.


Kesepian bukan berarti kita langsung mencari keramaian untuk menghibur diri. Tapi terkadang kita harus menikmati kesepian itu sendirian agar kita berpikir bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan bisa kita syukuri. Toh mereka yang kesepian kadang bisa menikmati rasa kesepian itu sendiri dibandingkan harus berada di tempat yang ramai untuk sekedar berpura-pura agar bisa bebas dari rasa kesepian yang ia alami.


Merasa sepi dalam ramai atau merasa ramai dalam sepi?



Rasa ingin tahu manusia memang baik agar kita bisa mengetahui apa yang belum pernah kita ketahui dan kita bisa mendapatkan pengetahuan baru. Tapi tak selamanya yang kita cari tahu itu berupa ilmu, bisa juga malah mala petaka yang menghampiri kita saat kita terlalu banyak mengetahui hal tersebut.


Baca juga : Kalimat Penenang


Hal yang seharusnya tidak kita ketahui malah menjadi tahu adalah sebuah beban yang menjadi tanggung jawab kita yang harus kita tanggung sendiri. Bahagia, kecewa, sakit, ataupun sedih pasti kita rasakan saat sudah mengetahui apa yang ingin kita ketahui. Tapi kebanyakan kecewa pastinya karena tidak sesuai dengan ekspektasi kita.


Padahal tidak ada yang menyuruh kita untuk mencari tahu. Dan mencari tahu itu sebenarnya tidak harus juga karena bisa menyebabkan kecanduan. Sekali saja kita mendapatkan informasi yang kita inginkan dan sesuai dengan yang kita pikirkan maka kita akan mencoba menggali lebih dalam lagi. Padahal yang sebenarnya kita gali adalah jurang untuk menjatuhkan kita dan akhirnya tak bisa kembali ke atas lagi.


Mencari tahu sesuatu kadang juga disertai dengan rasa curiga dan khawatir. Yang pasti kita kebanyakan membawa hal negatif saat ingin menggali informasi. Emosi kita yang sedang memuncak ditambah lagi dengan pikiran kita yang sudah tidak karuan lagi membuat kita menjadi buta dan akhirnya... (akhirnya apa?)


Makanya orang sekarang merasa apatis terhadap sekitar. "Ah terserah selama ga ganggu hidup gue ya bodo amat". Ga mau tau urusan orang lain juga menjadi awal bagi seseorang agar tidak overthinking. Kayaknya sakit banget ya berpikir suatu hal yang belum tentu kejadian dan malah membuat kita menjadi was-was dan berpikiran yang engga-engga. Padahal yang kita pikirkan belum tentu terjadi. Tapi karena sudah bawaan curiga dan emosi yang memuncak, sesuatu yang ga ada jadi diada-adakan.


Mungkin orang yang sekarang sifatnya acuh tak acuh adalah orang yang dulunya merasa pengen tau terus dan akhirnya mendapatkan apa yang dipikirkannya terjadi. Dan mulai saat itu dia ga mau yang namanya sakit mungkin atau apalah yang membuat dia trauma akan hal yang pernah dilakukannya.


Tapi ga ada salahnya juga kita ingin tau sesuatu (tau atau tahu yang bener ni?) Karena kalau ga kepo ya ga bakal hidup juga kita di dunia ini. Selagi ada batasan yang membuat kita ga berlebihan ya ga apa-apa.


Pada intinya mencari sesuatu yang berlebihan itu bisa menjadi penyakit yang menyerang kita sendiri. Kayaknya lebih baik diam dan ga ngapa-ngapain. Ikut arus aja kalaupun memang arus itu membawa ke air terjun ya mau ga mau kita harus ikut terjun juga. Toh semua tinggal menunggu waktu cepat ataupun lambat.


Mungkin kita dijuluki si penyelam handal yang bisa mengakses banyak informasi melalui banyak tempat. Tapi apakah setelah kita mengetahui informasi tersebut bisa membuat kita senang atau malah membuat kita sakit? Yang ujung-ujungnya malah... Malah apa?



Adakalanya kita pernah ragu dalam menjalani hidup. Berpikir terlalu keras padahal apa yang kita pikirkan tidak seberat kenyataannya. Tapi semua itu luluh seketika saat ucapan manis keluar dari bibir.

Saat kita berfikir sendiri, pasti banyak was-was yang kita jumpai atau mungkin juga bisa dikatakan perasaan ragu yang menyelimuti diri membuat kita patah dan enggan untuk melanjutkannya. Tapi di sisi lain, ucapan atau perkataan seseorang kadang bisa juga menguatkan kita dalam menjalani kehidupan atau mungkin juga sebaliknya.

Belum lama ini saya juga mendapat ucapan yang seolah-olah menyakinkan saya bahwa semua akan aman dan tidak akan ada hal buruk yang menimpa. Soal pekerjaan misalnya, saat saya ragu apakah pekerjaan ini berhasil padahal sudah jelas-jelas dipandang mata nampak sekali kesalahannya. Tapi seorang teman berucap "tenang kita sudah benar" ah rasanya lega ada orang yang menyakinkan kita dan membuat kita tidak ragu lagi dalam mengambil keputusan.

Soal masa depan juga begitu. Saya jujur sampai saat ini juga masih ragu apakah masa depan saya akan cerah atau buruk. Padahal itu bukan tugas kita terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi dan malah meninggalkan sesuatu yang sudah ada di depan mata kita.

Apalagi sekarang bukannya musim hujan malah musimnya orang nikah. Banyak teman, saudara, ataupun tetangga kita yang sudah melangsungkan pernikahan. Entah semua itu atas dasar sudah siap atau hanya sekedar ikut-ikutan saja. Di sisi lain ikut senang pastinya sudah bisa melihat teman menemukan pasangan hidupnya. Tapi di sisi lain kadang kita berpikir terlalu jauh hingga membuat kita ragu untuk melangsungkan pernikahan juga.

Baca juga : Sistem Pendukung 

Hal yang sifatnya sakral dan ga main-main memang ga boleh kita pikirkan secara main-main juga. Pengennya tetap dipikir secara matang tapi nyatanya malah membuat kita jalan di tempat dan tak kan pernah maju satu langkahpun. Banyak yang harus dipikirkan apalagi kita hidup dengan pasangan kita cukup lama (harusnya). Masa iya kita menikah tapi ujung-ujungnya berpisah kan.

Seorang teman berkata, "udah nikah dulu aja masalah kedepannya pasti ada jalannya". Yaa memang kalimat tersebut bisa menenangkan pikiran kita sejenak. Berpikir bahwa semua akan baik-baik saja tanpa perlu kita pikirkan secara mendalam.

Tapi ucapan mereka ada benernya juga. Mungkin diri ini yang masih kurang yakin dengan kehendaknya yang bisa melakukan apa saja. Kita ragu dengan yang maha Esa dan malah percaya dengan pikiran negatif kita sendiri yang akhirnya malah berujung menggerogoti otak kita yang seharusnya bisa digunakan untuk berpikir hal yang positif.

Jadi harus mulai dari mana?